Halaman

Cari Blog Ini

Sabtu, 08 Oktober 2011

terjemahan Komunikasi STEPHEN W. LITLLE JHON Capter 3

BAB 3
TRADISI-TRADISI TEORI KOMUNIKASI

Jenis musik apa yang anda sukai? Mungkin anda akan menyukai beberapa jenis musik yang berbeda, akan tetapi anda akan menjawab pertanyaan itu tanpa memiliki beberapa pengetahuan tentang perbedaan-perbedaan diantara sejumlah jenis yang berbeda. Tetapi musik dibentuk dalam beberapa aliran, mulai dari musik klasik sampai hip hop. Kita akan dibingungkan oleh musik jika tidak memiliki beberapa pengertian akan persamaan dan perbedaan musik.
Hal tersebut serupa dengan dunia teori. Ketika kita mencoba mengeksplorasi teori-teori, kita perlu juga berpikir tentang grup dan aliran, perlu dibentuk skema pengorganisasian. Bagaimana kerangka kerja untuk digunakan sebagai petunjuk dan alat dalam memperhatikan beberapa asumsi, perspektif dan poin-poin utama teori komunikasi hal ini dimaksudkan untuk melihat persamaan dan perbedaanya.

Menyusun Teori Komunikasi
Pikirkan tentang dunia komunikasi yang anda selami. Bagaimana anda mengelompokkannya? Aspek-aspek apa yang menarik minat anda? Akankah anda melihat dahulu simbol yang membentuknya? Akankah anda berkonsentrasi dan berpersepsi terhadap pikiran anda? Mungkin anda akan melihat diluar objek, kata, simbol dan tindakan itu serta apa yang mereka berikan untuk kehidupan anda?
Anda tidak akan menemukan setiap pertanyaan tersebut layak atau berguna. Beberapa pertimbangan ini akan lebih terbuka lebar bagi anda, sementara yang lainnya akan menarik anda tepat didalamnya. Sementaraa itu keragaman tipologi komunikasi itu telah dikembangkan. Kita tentunya menyukai model Robert Craig karena merefleksikan komunikasi dalam cara yang holistik. Craig membagi dunia komunikasi kedalam tujuh tradisi pemikiran: 1. Tradisi semiotik 2. Fenomenologis 3. Sibernetika 4. Sosiopsikologis 5. Sosiokulturan 6. Kritis 7. Retoris. Berdasarkan kesamaan asumsi tradisi-tradisi tersebut ingin dijadikan sebuah kesamaan dan kesepakatan bersama.
Menurut Robert Craig bahwa tidak ada satupun teori komunikasi yang benar, tetapi banyak manfaat untuk memikirkan permasalahan-permasalahan tertentu. Semakin banyak teori yang diketahui, semakin banyak pilihan pemecahan masalah berbeda yang anda alami. Namun, keragaman ini juga menyebabkan kebingungan. Pada model tradisi Craig, dia menyederhanakan gambaran besar dengan memperlihatkan bahwa kebanyakan teori komunikasi datang dari sejumlah kecil tradisi-tradisi yang merepresentasikan perbedaan mendasar dan pendekatan-pendekatn praktis.

1. Tradisi Semiotik
Tradisi semiotik / penyelidikan simbol-simbol membentuk tradisi pemikiran yang penting dalam teori komunikasi. Tradisi ini terdiri atas sekumpulan teori tentang bagaimana tanda-tanda merepresentasikan benda, ide, keadaa. Situasi, perasaan dan kondisi diluar tanda-tanda itu sendiri. Penyelidikan tanda-tanda tak hanya memberikan cara untuk melihat komunikasi, melainkan memiliki pengaruh yang kuat hampir semua perspektif yang sekarang diterapkan pada teori komunikasi.
Gagasan Utama Dalam Tradisi Semiotik
Konsep dasar yang menyatukan teori ini adalah tanda yang didefinisikan sebagai stimulus yang menandakan atau menunjukkan beberapa kondisi lain. Konsep dasar yang kedua adalah simbol yang biasanya menandakan tanda yang kompleks dengan banyak arti yang sangat khusus. Dengan perhatian pada tanda dan simbol, semiotik menyatukan kumpulan teori-teori yang sangat luas berkaitan dengan bahasa, wacana, dan tindakan-tindakan nonverbal.
Kebanyakan pemikiran semiotik melibatkan ide dasar triad of meaning yang menegaskan bahwa arti itu muncul dari hubungan diantara tiga hal, benda (atau yang dituju), manusia (penafsir) dan tanda. Charles Saunders Pierce, ahli semiotik meodrn pertama dapat dikatakan pula sebagai pelopor ide ini. Pierce mendefinisikan semiosis sebagai hubungan diantara tanda, benda, dan arti. Tanda tersebut merepresentasikan benda atau yang ditunjuk dalam fikiran si penafsir.
Variasi Dalam Tradisi Semiotik
Semiotik selalu dibagi kedalam tiga kajian wilayah, semantik, sintaktik, dan pragmatik. Semantik berbicara bagaimana tanda-tanda berhubungan dengan yang ditunjuknya atau apa yang ditunjukkan oleh tanda-tanda. Semiotik menggambarkan dua dunia-dunia benda dan dunia tanda-dan mencerahkan hubungan antara kedua dunia tersebut.
Sintaktik atau kajian hubungan diantara tanda-tanda. Tanda-tanda sebetulnya tidak pernah bberdiri dengan sendirinya, hampir semua selalu menjadi bagian dari sistem tanda atau kelompok tanda yang lebih besar dan diatur dalam cara-cara tertentu. Oleh kkarena itu sintaktik mengacu pada aturan-aturan yang dengan orang mengkombinasikannya tanda-tanda kedalam sistem makna yang kompleks. Pragmatik kajiannya memperlihatkan bagaimana tanda-tanda membuat perbedaan dalam kehidupan manusia atau penggunaan praktis serta berbagai akibat dan pengaruh tanda dalam kehidupan sosial.

2. Tradisi Fenomenologis
Dalam tradisi fenomenologis berasumsi bahwa orang-orang secara aktif menginterpretasi pengalamannya dan mencoba memahami dunia dengan pengalaman pribadinya. Istilan phenomenon mengacu pada kemunculan sebuah benda, kejadian atau kondisi yang ia lihat. Oleh karena itu fenomenologi merupakan cara yang digunakan manusia untuk memahami dunia melalui pengalaman langsung. Maurice Merleau-Ponty, pakar dalam tradisi ini menuliskan bahwa “semua penngetahuan akan dunia, bahkan pengetahuan ilmiah diperoleh dari beberapa pengalaman akan dunia. Stanley Deetz menyimpulkan tiga prinsip dasar fenomenologi. Pertama pengetahuan ditemukan secara langsung dalam pengalaman sadar, kita akan mengetahui dunia apabila kita berhubungan dengannya. Kedua makna benda terdiri atas kekuatan benda dalam kehidupan seseorang. Dengan kata lain bagaimana anda berhubungan dengan benda menentukan makna bagi anda. Asumsi ketiga bahwa bahasa merupakan kendaraan mmakna. Kita megalami dunia melalui bahasa yang digunakan untuk mendefinisikan dan mengekspresikan dunia itu.

3. Tradisi Sibernetika
Sibernetika merupakan tradisi sistem-sistem kompleks yang didalamnya banyak orang saling berinteraksi, mempengaruhi satu sama lainnya. Dalam tradisi ini menjelaskan bagaimana proses fisik, biologis, sosial, dan perilaku bekerja. Dalam sibernetika komunikasi dipahami sebagai sistem bagian-bagian atau variabel yang mempengaruhi satu sama lainnya, membentuk serta mengontrol karakter keseluruhan sistem, dan layaknya organisme menerima keseimbangan dan perubahan.
Istilah sibernetika dapat membingungkan karena istilah tersebut dapat diaplikasikan baik pada tradisi umum(seperti yang telah dilakukan oleh Craig) maupun pada sibernetika yang lebih spesifik, yang merupakan satu diantara variasinya. Sibernetika dalam kesan yang sempit dipopulerkan oleh Norbert Wiener pada tahun 1950-an. Sebagai kajian sibernetika merupakan cabang dari teori sistem yang memfokuskan diri pada putaran timbal balik dan proses-proses kontrol. Dengan menekankan pada kekuatan-kekuatan yang tidak terbatas, sibernetika menantang pendekatan linier yang menyatakan bahwa satu hal dapat menyebabkan hal lainnya. Sebagai gantinya konsep ini mengarahkan pada kita atas pertanyaan-pertanyaan tentang bagaimana sesuatu saling mempengaruhi satu sama lainnya dalam cara yang tak berujung.

4. Tradisi Sosiopsikologis
Kajian individu sebagai makhluk sosial merupakan tujuan dari tradisi sosiopsikologis. Berasal dari kajian psikologi sosial, tradisi ini memiliki tradisi yang kuat dalam komunikasi. Teori-teori ini berfokus pada perilaku sosial individu, kepribadian dan sifat, persepsi serta kognisi. Meskipun teori-teori ini memiliki banyak perbedaan, mereka sama-sama memperhatikan perilaku dan sifat-sifat pribadi serta proses kognitif yang menghasilkan perilaku.
Pendekatan individualis yang memberi ciri tradisi sosiopsikologis merupakan hal yang umum dalam pembahasan komunikasi serta lebih luas dalam ilmu pengetahuan sosial dalam perilaku. Hal ini dapat dipahami dalam lingkungan budaya kita.
Saat ini, kebanyakan teori komunikasi sosiopsikologis lebih berorientasi pada sisi kognitif, yaitu memberikan pemahaman bagaimana manusia memproses informasi. Dalam hal ini, tradisi sibernetika dan sosiopsikologis bersama-sama menjelaskan sistem pemprosesan informasi individu manusia. Informasi merupakan bagian dari perhatian khusus, sedangkan rencana dan perilaku merupakan bagian dari sistem kognitif.
Banyak karya dari tradisi ini berasumsi bahwa mekanisme-mekanisme pemrosesan informasi manusia berada diluar kesadaran kita. Sebagai pelaku komunikasi, kita disadarkan akan aspek-aspek spesifik dari proses, seperti perhatian dan ingatan serta kita akaan sangat sadar dengan kemampuan tertentu, seperti rencana dan perilaku.

5. Tradisi sosiokultural
Pendekatan sosiokultural terhadap teori komunikasi menunjukkan cara pemahaman kita terhadap norma, peran, dan peraturan yang dijalankan secara intensif dalam komunikasi. Teori-teori tersebut mengeksplorasi dunia interaksi yang dihuni oleh manusia, menjelaskan bahwa realitas bukanlah seperangkat susunan diluar kita , tetapi dibentuk melalui proses interaksi di dalam kelompok, komunitas dan budaya. Tradisi ini memfokuskan diri dari bentuk-bentuk interaksi antar manusia daripada karakteristik individu atau model mental. Interaksi merupakan proses dan tempat makna, peran, peraturran, serta nilai budaya yang dijalankan. Meskipun individu memproses informasi secara kognitif.
Ada skeptisme baik dalam perkembangan tentang penemuan metode-metode penelitian. Malahan para eneliti sosiokultural cenderung menganut ide bahwa realitas itu dibentuk oleh bahasa, sehingga apapun yang “ditemukan” harus dipengaruhi oleh bentuk-bentuk interaksi prosedur penelitian itu sendiri. Oleh karena itu dalam pendekatan sosiokultural pengetahuan dapat di intepretasikan dan di bentuk. Teori-teori tersebut cenderung berhubungan bagaimana makna diciptakan dalam interaksi sosial dalam institusi nyata. Makna dalam kata-kata dalam situasi tersebut dianggap sangat penting. Seperti layaknya bentuk-bentuk perilaku dalam interaksi dalam situasi nyata. Teori sosiokultural juga memfokuskan bagaimana identitas-identitas dibangun melalui interaksi dalam kelompok sosial dan budaya. Identitas sebagai dorongan bagi kita sebagai individu dalam peranan sosial, sebagai anggota komunitas, dan sebagai makhluk berbudaya.

Keragaman dalam Tradisi Sosiokultural
Sosikultural memiliki beragam sudut pandang yang berpengaruh : paham interaksi simbolis (symbolic interactionism), sosiolinguistik, filisofi bahasa, etnografi dan etnometodelogi. Berdasarkan ide bahwa struktur sosial dan makna diciptakan serta dipelihara dalam interaksi sosial, paham interaksi simbolis sangat berpengaruh dalam tradisi. Paham interaksi simbolis berasal dari kajian sosiologi melalui penelitian Herbert Blumer dan George Herbert mead yang menekankan pentingnya observasi dalam kajian komunikasi sebagai cara dalam mengeksplorasi hubungan-hubungan sosial. Ide pokok dari paham interaksionalis simbolik telah dikalaborasikan oleh banyak pakar sosial serta saat ini dimasukkan ke dalam kajian kelompok, emosi, diri, politik, dan struktur sosial.
Sudut pandang kedua yang berpengaruh dalam pendekatan sosiokultural dalah paham konstruktivisme sosial (social constructionism), sudut pandang penyelidikan tentang bagaimana pengetahuan manusia dibentuk melalui interaksi. Identitas benda dihasil dari bagaimana kita berbicara tentang objek, bahasa yang digunakan untuk menangkap konsep kita. Dan cara-cara kelompok sosial menyesuaikan diri pada pengalaman umum mereka. Pengaruh ketiga dalam tradisi sosiokultural teori komunikasi adalah sosiolinguistik atau kajian bahasa dan budaya. Hal yang terpenting dalam tradisi ini adalah bahwa manusia menggunakan bahasa secara berbeda dalam kelompok budaya dan kelompok sosial yang berbeda pula. Bukan hanya media netral untuk menghubungkan manusia, bahasa juga masuk dalam bentuk yang menentukan jati diri kita sebagai makhluk sosial dan berbudaya.

6. Tradisi Kritik
Pertanyaan-pertanyaan tentang keistimewaan dan kekuatan dianggap penting dalam teori komunikasi dan merupakan tema dari tradisi kritik. Tradisi kritik berlawanan dengan banyak asumsi dasar dari tradisi lainnya. Sangat dipengaruhi oleh karya-karya eropa, feminisme amerika, dan kajian post-modernisme dan post-kolonialisme. Tradisi ini berkembang pesat dan berpengaruh pada teori komunikasi.
Meskipun terdapat banyak keberagaman tradisi kritik, semuanya sama-sama memiliki tiga keistimewaan pokok. Pertama tradisi kritik mencoba memahami sistem yang sudah dianggap benar, struktur kekuatan, dan keyakinan atau ideologi yang mendominasi masyarakat, dengan pandangan tertentu dimana minat-minat disajikan oleh struktur kekuatan tersebut. Kedua para ahli teori kritik pada umumnya tertarik dengan membuka kondisi sosial yang menindas dan rangkaian kekuatan untuk mempromosikan emansipasi atau masyarakat yang lebih bebas dan lebih berkecukupan. Teori kritik yang ketiga menciptakan kesadaran untuk menggabungkan teori dan tindakan. Teori-teori tersebut bersifat normatif dan bertindak untuk mendapatkan atau mencapai perubahan dalam kondisi-kondisi yang mempengaruhi masyarakat atau yang seperti dinyatakan Della Pollock dan J. Robert Cox “untuk membaca dunia dengan pandangan yang dapat membentuknya”.
Dalam kajian komunikasi para ahli kritik umumnya tertarik dengan bagaimana pesan memperkuat penekanan dalam masyarakat. Mereka juga fokus dengan wacana dan teks-teks yang mempromosikan ideologi-ideologi tertentu, membentuk dan mempertahankan kekuatan, meruntuhkan minat-minat kelompok atau kelas tertentu. Teori-teori kritik sangat luas, sehingga teori tersebut sangat sangat sulit ditempatkan dan dikelompokkan dalam keseluruhan teori komunikasi. Kita akan membahas cabang-cabang pokok : marxisme, The Frankfurt school of critical theory, post modernisme, post kolonialisme dan kajian feminis.
Meskipun tradisi kritik telah muncul sejak karya Marx dan Friedrich Engles, marxisme merupakan cabang induk dari teori kritik, Marx mengajarkan bahwa cara-cara produksi dalam masyarakat menentukan sifat dalam masyarakat. Saat ini teori kritik marxis sangat berkembang, meskipun teori ini sudah bercabang dan multiteoritis, beberapa ahli masih dengan senang hati mengadopsi ide-ide marx pada ekonomi politik meskipun perhatian dasar akan konflik dialektik, dominasi, dan penindasan tetap penting.
Frankfrut adalah cabang kedua dari teori kritik dan faktanya sangat bertanggung jawab terhadap kemunculan istilah crittical theory. Frankfrut masih sering digambarkan sebagai persamaan dengan istilah teori kritik. Frankfrut mengacu pada kelompok filsuf jerman, sosiolog, dan ekonom Max Horkheimer. Teori kritik berada dalam paradigma modernis, entah itu intelektual atau pandangan populer, pada sebuah kepercayaan pada alasan yang dibangun melalui ilmu pengetahuan, bahwa individu sebagai agen perubahan dan penemuan aspek-aspek budaya yang Cuma-Cuma.
Pos modernisme dalam pengertian paling umum diberi tanda oleh perpecahan dengan modernitas dan proyek pencerahan. Bermula pada tahun 1970an post modernisme menolak “elitisme, puritanisme, dan sterilitas” rasional karena pluralisme, relativitas, kebaruan, kompleksitas, dan kontradiksi. Kontribusi Jean-Francois Lyotard terhadap post modernisme merupakan enolakan terhadap cerita hebat tentang kemajuan , tidak ada lagi kisah-kisah yang diceritakan masuk akal dalam suatu budaya. Berikutnya teori Post kolonialisme mengacu pada kajian “semua kebudayaan dipengaruhi oleh proses kekaisaran di era kolonialisasi sampai hari ini. Inti teori ini adalah gagasan yang dikemukakan oleh Edward Said bahwa proses penjajahan menciptakan “kebedaan”yang bertanggung jawab bagi gambaran yang di stereotipkan pada populasi bukan kulit putih. Teori said merupakan proyek kritik dan post modern yang bukan hanya menggambarkan proses kolonialisasi dan keeradaannya untuk mengintervensi “emancipatory political stanceĆ­”. Post kolonial juga merupakan sebuah proyek post modern dalam mempertanyakan bahwa hubungan historis, nasional, dan geografis serta penghapusan dibuat eksplisit dalam wacana.
Akhirnya, kajian feminis telah bertahun-tahun dalam tradisi kritik. Feminisme diidentifikasikan secaraa beragam, mulai dari pergerakan untuk menyelamatkan hak-hak wanita sampai semua bentuk usaha penekanan. Para ahli feminisme memulai dengan fokus pada gender dan mencari perbedaan antara seks- sebuah kategori biologis dan gender sebuah konstruksi sosial.

7. Tradisi Retorika
Apakah anda suka mempelajari wacana serta memikirkan akibatnya? Jika demikian mungkin anda terseret dalam tradisi retorika pada teori komunikasi. Kata retorika sering mengalami penyempitan mmakna-kosong atau kata-kata ornamen yang berlawanan dengan tindakan. Bagaimanapun dalam keadaan yang sesungguhnya kajian retorika memiliki sejarah yang berbeda di belahan barat. Kajian retorika secara umum didefinisikan sebagai simbol yang digunakan manusia, pada awalnya ilmu ini dihubungkan pada persuasi sehingga retorika adalah seni penyususnan argumen dan pembuatan naskah pidato. Kemudian dikembangkan sampai meliputi proses ”adjusting idea to people and people to ideas” dalam segala jenis pesan. Fokus dari retorika diperluas bahkan lebih mencakup segala cara manusia dalam menggunakan simbol untuk mempengaruhi lingkungan disekitarnya dan untuk membangun dunia tempat mereka tinggal.
Pusat dari tradisi retorika adalah kelima karya agung retorika, penemuan, penyusunan, gaya, penyampaian, dan daya ingat. Semua ini adalah elemen-elemen dalam mempersiapkan sebuah pidato. Sedangkan pidato orang Yunani dan Roma kuno berhubungan dengan ide-ide penemuan, pengaturan ide, memilih bagaimaa membingkai ide tesebut kedalam sebuah bahasa. Retorika mempunyai makna yang berbeda dalam periode yang berbeda sehingga menyebabkan kekacauan dalam pemaknaan kata.
Hal yang paling penting periode kontemporer nampaknya juga telah kembali dalam pemaknaan mengenai retorika sebagai epistemika-sebagai sebuah cara untuk mengetahui dunia, bukan hanya sebuah cara untuk menyampaikan sesuatu tentang dunia. Sebagian besar ahli retorika saat ini menganut paham pada beberapa tingkatan dengan gagasan bahwa manusia menciptakan dunia mereka melalui simbol-simbol bahwa dunia yang kita kenal merupakan salah satu yang ditawarkan kepada kita oleh bahsa kita.
Kecenderungan lain muncul pada akhir abad ke 20 dan awal abad ke 21 telah terjadi jembatan antar retorika dengan post modernisme terutama pada apresiasi post modern da penilaian pendirian yang berbeda. Selanjutnya retorika jauh berbeda dengan tanpa arti, kosong, atau pembicaraan ornamental, hal ini merupakan seni dasar dan praktik komunikasi manusia. Ketika retorika berhubung yang dikembangkanan dengan praktik pidato menurut standart tunggal yang dikembangkan oleh yunani, saat ini kita mengetahui keberadaan banyak ahli pidato yang masing-masing menawarkan sudut pandang yang berbeda.

Mengembangkan Konteks Untuk komunikasi
Dalam tujuh tradisi yang telah dibahas sebelumnya mencakup banyak aspek komunikasi. Untuk menyusun teori, ada beberapa poin pusat. Bayangkanlah ketika melihat proses komunikasi melalui sebuah lensa pembesar. Kita dapat mempersempit area fokus pada individu dan selanjutnya memperlebarnya perlahan-perlahan untuk kelihat pada pandangan yang cukup lebar. Pada setiap titik, kita dapat memutar sedikit lensanya untuk melihat fitur-fitur lain dari pemandangan tersebut dalam fokus. Disadari bahwa setiap aspek komunikasi merupakan bagian dari konteks yang lebih besar. Setiap tingkatan komunikasi mempengaruhi dan dipengaruhi oleh konteks-konteks yang lebih besar.
Konteks-konteks komunikasi dari pelaku komunikasi hingga masyarakat dari pelaku komunikasi saling mempengaruhi satu sama lain, sebagai contoh hubungan kita didefinisikan dan diatur melalui pertukaran pesan dalam percakapan. Para pelaku komunikasi mengambil keputusan mengenai pesan, tetapi pesan diatur dalam perccakapan. Tabel 3.1 memberikan ide tentang apa yang harus diharapkan dalam kedepannya. Poin-poin berikut akan menyediakan petunjuk ketika akan melanjutkan pembahasan teori berikutnya.
1. Perhatikan bahwa tidak ada tradisi yang memberikan kontribusi pada setiap aspek komunikasi. Sebagai contoh tradisi sosiopsikologis yang sangat berpengaruh dalam menentukan banyak aspek komunikasi, tetapi tradisi ini sedikit membicarakan tentang masyarakat dan budaya. Tradisi fenomenologis agak terbatas kontribusinya pada teori komunikasi, paling tidak secara langsung bahkan idenya tentang interpretasi telah lama menjadi faktor utama dalam membantu kita mengintepretasi budaya dan mengalami berbagai macam.
2. Tradisi-tradisi tidaklah terpisah satu sama lainnya. Tentu saja tradisi-tradisi tersebut telah mempengaruhi satu sama lainnya dan saling menutupi dengan cara yang signifikan.
3. Setiap tradisi memiliki karakter khuss dan dalam beberapa kasus, tradisi tersebut bahkan saling menolak satu sama lainnya. Sosiopsikologis dan sosiokultural adakalanya bersentuhan, tetapi hal ini merupakan hal yang jarang. Tradisi-tradisi kritik dan sosiopsikologis tidak pernah datang bersamaan, sibernetika dan semiotik pun jarang datang bersamaan. Dalam hal demikian asumsi-asumsi dasar yang mendorong tradisi sangat bertentangan.
4. Ketika mengganti konteks, tradisi-tradisi yang berbeda menjadi kurang berharga, karena komunikasi itu multi kontekstual setiap tradisi memiliki nilai dalam membantu kita memahami persamaan dan perbedaan dalam konteks.
5. Meskipun tradisi-tradisi tidak menyebarkan dirinya dengan sama untuk semua konteks, distribusi-distribusi itu juga tidak terbatas dalam jangkauan perhatian yang sempit. Misalnya teori kritik yang sering menegaskan tentang struktur sosial yang luas juga berkontribusi pada pemahaman kita akan masing-masing pelaku komunikasi sebagai tompangan identitas politis. Bahkan tradisi sosiopsikologis yang mengaplikasikan dengan sangat jelas pada individu-individu, memiliki sesuatu yang harus dikatakan tentang kelompok, organisassi dan bahkan media kaitanya dengan peran psikologi dalam kesatuan sosial.

terjemahan Komunikasi STEPHEN W. LITLLE JHON

BAB 2
GAGASAN TEORI

Teori-teori menyusun dan menyatukan pengetahuan yang sudah ada, sehingga kita tidak perlu memulai semua penelitian dari awal. Teori-teori atau pengetahuan yang terorganisir dari satu bidang yang dikembangkan oleh hasil-hasil dai akademisi-akademisi sebelumnya membuat titik awal untuk memahami bidang apapun. Istilah teori komunikasi dapat mengacu padasebuah teori tunggal atau dapat digunakan untuk menandakan kearifan kolektif yang ditemukan dalam seluruh kesatuan teori-teori yang berhubungan dengan komunikasi. Setiap teori melihat pada sebuah proses dari sudut pandang yang berbeda, mengajak anda untuk memikirkan apa yang dimaksud oleh komunikasi dan bagaimana komunikasi bekerja dari titik tersebut.
Apa itu teori? Kita telah membicarakannya tanpa mendefinisikannya. Penggunaan istilah berawal dari teori Farmer Jones tentang ketika ia mulai menjawab teori relativitas einstein. Bahkan ilmuwan, penulis, dan filsuf menggunakan istilah yang berbeda-beda. Tujuan buku ini adalah merepresentasikan sebuah cakupan pemikiran----teori-teori yang luas mengenai komunikasi. Oleh karena itu, kami menggunakan istilah teori untuk cakupan yang lebih luas, seperti konsep penjelasan dan ilmu-ilmu dari beberapa aspek pengalaman manusia.
Semua teori merupakan abstrak. Mereka selalu mengurangi pengalaman menjadi sebuah bentuk kategori-kategori dan hasilnya selalu menghasilkan sesuatu. Sebuah teori memfokuskan kita pada sesuatu----pola, hubungan, variabel----dan mengabaikan yang lainnya. Tidak ada teori yang mengungkapkan “kebenaran” atau mampu untuk benar-benar menyampaikan subjek atau penelitiannya. Teori-teori berfungsi sebagai panduan yang membantu kita memahami, menjelaskan, mengartikan, menilai dan menyampaikannya.
Teori juga merupakan susunan. Yang diciptakan manusia bukan diciptakan dari tuhan. Teori merepresentasikan beragam cara para peneliti mengamati objek dan bagaimana peneliti merepresentasikan pada objek tersebut. Abraham Kaplan menulis “bentuk sebuah teori bukan hanya penemuan dari sebuah fakta tersembunyi. Teori adalah cara untuk melihat fakta, menyusun dan menunjukkannya”. Stanley Deetz menambahkan bahwa “sebuah teori adalah sebuah cara untuk melihat dan memikirkan dunia, oleh karena itu hal itu lebih baik dilihat sebagai “kacamata” yang digunakan seseorang dalam pengamatan daripada sebuah cerminan alam”.
Teori merupakan tafsiran, sehingga mempertanyakan kegunaan sebuah teori lebih bijaksana daripada mempertanyakan kebenarannya. Kebenarannya itupun dapat dilihat dari berbagai macam cara, tergantung dari orientasi teori. Sebuah teori menawarkan suatu cara untuk menagkap “kebenaran” dari sebuah fenomena tetapi bukan satu-satunya untuk memandang satu fenomena tersebut. Teori dapat mendukung bagaimana kita bertindak. Teori berisi seperangkat pelajaran untuk membaca dunia dan bertindak didalamnya.

Dimensi-Dimensi Teori
Ada empat dimensi teori (1) asumsi filosofi atau kepercayaan dasar yang mendasari teori (2) konsep atau susunan-susunan pembentukan (3) penjelasan atau hubungan dinamis yang dihasilkan teori, dan (4) prinsip atau paduan untuk tindakan.

Asumsi Filosofi
Titik awal adalah semua teori adalah asumsi-asumsi filosofi yang mendasari. Asumsi-asumsi yang dipakai seorang ahli teori menentukan bagaimana sebuah teori akan digunakan. Oleh sebab itu, dengan mengetahui asumsi-asumsi dibalik sebuah teori merupakan langkah pertama untuk memahami teori tersebut. Asumsi-asumsi filosofi tersebut dibagi menjadi tiga jenis utama, epistimologi atau pertanyaan-pertanyaan tentang pengetahuan. Asumsi mengenai Ontologi atau pertanyaan-pertanyaan tentang keberadaannya. Dan asumsi Aksiologi atau pertanyaan-pertanyaan tentang nilai. Semua teori baik secara eksplisit maupun implisit memasukkan asumsi-asumsi mengenai sifat pengetahuan dan bagimana hal tersebut diperoleh apa yang mendasari keberadaannya, dan apa yang berharga.
Epistemologi merupakan cabang filosofi yang mempelajari pengetahuan atau bagaimana orang-orang mengetahui apa yang mereka ketahui. Pertanyan-pertanyaan berikut merupakan pertanyaan-pertanyaan paling umum mengenai epistemologi yang berhubungan dengan komunikasi.
Pada tingkatan apa pengetahuan dapat muncul sebelum pengalaman? Banyak yang percaya bahwa pengetahuan berasal dari pengalaman. Kita mengamati tentang dunia sehingga kita mengerti dunia. Akan tetapi masih ada sifat dasar kita yang memberikan sejenis pengetahuan, bahkan sebelum kita mengalaminya. Kemampuan untuk berfikir dan merasakan seringkali disebut sebagai bukti untuk mekanisme yang melekat tersebut.
Pada tingkatan apa pengetahuan dapat menjadi sesuatu yang pasti? Apakah pengetahuan yang ada disunia bersifat mutlak, sehingga dapat diambil oleh siiapaa saja yang menemukannya. Atau pengetahuan relatif dan berubah? Perdebatan masalah ini telah terjadi diantara para filsuf selama ratusan tahun dan ahli teori komunikasi menempatkan dirinya dalam tempat-tempat yang berbeda pada rangkaian kesatuan ini juga. Pendirian universal yang percaya bahwa mereka mencari pengetahuan yang mutlak dan tidak berubah akan mengalami kesalahan dalaam teorinya. Akan tetapi mereka percaya bahwa kesalahaan-kesalahan ini hanyalah sebuah hasil dan belum ditemukannya kebenaran yang utuh.
Ontologi merupakan sebuah filosofi yang berhadapan dengan sifat makhluk hidup. Epistemologi dan ontologi berjalan beriringan karena gagasan-gagasan tentang pengetahuan sebagian besar bergantung pada pemikiran kita mengenai siapa yang mengetahui. Dalam ilmu sosial, ontologi sebagian besar berhadapan dengan sifat keberadaan manusia, dalam komunikasi, ontologi berpusat pada sifat interaksi sosial manusia karena cara seorang ahli teori mengkonseptualisasikan interaksi sebagian besar bergantung pada bagaimana penghubung tersebut dipandang sedikitnya ada empat masalah penting.
Pertama pada tingkatan apa manusia membuat pilihan-pilihan yang nyata? Walaupun semua penelitian nampaknya setuju bahwa orang-orang merasakan pilihan. Kedua apakah perilaku manusia sebaiknya dipahami dalam bentuk keadaan atau sifat . pernyataan ini berhubungan dengan apakah ada dimensi yang cukup stabil sifatnya atau kondisi-kondisi sementara yang lebih mempengaruhi manusia yang disebut dengan keadaan. Ketiga apakah pengalamman manusia semata-mata individual atau sosial? Hal ini berhubungan apakah individu atau kelompok membawa banyak beban untuk menentukan tindakan manusia. Pada tingkatan keempat apakah komunikasi menjadi kontekstual?fokus pertanyaan ini adalah apakah perilaku diatur oleh prinsip-prinsip universal atau apakah hal ini tergantung pada faktor-faktor situasional.
Aksiologi cabang filosofi yang berhubungan dengan penelitian tentang nilai-nilai. Nilai-nilai apa yang memandu dalam penelitian dan apa implikasi nilai-nilai tersebut bagi hasil penelitian? Maka akademisi komunikasi, masalah aksiologi ini penting.
Bisakah teori bebas dari nilai? Ilmu pengetahuan klasik menjawab kegelisahan aksiologi yang pertama ini dengan jawaban setuju, bahwa teori dan penelitian bebas dari nilai, bahwa ilmu bersifat netral, dan apa yang coba dilakukan oleh akademisi adalah untuk mengungkapkan fakta bagaimana adanya. Menurut pandangan ini ketika nilai-nilai ilmuwan menimpa karya mereka, maka hasilnya adalah ilmu pengetahuan yang buruk. Akan tetapi pada posisi yang berbeda dalam masalah ini: bahwa ilmu pengetahuan tidak bebas dari nilai karena penelitian selalu dipandu oleh pilihan apa yang diteliti, bagaimana melakukan penelitian, dan sebagainya. Masalah nilai kedua berfokus pada pertanyaan apakah akademisi mengganggu, sehingga mempengaruhi proses yang sedang dipelajari. Dengan kata lain pada tingkatan apa proses penelitian itu mempengaruhi apa yang s edang diamati? Pada tingkatan apakah peneliti menjadi satu bagian dari sistem yang sedang diteliti dan juga mempengaruhi sistemnya. Sudut pandang ilmiah tradisional adalah pada apa yang harus diamati baik-baik oleh para ilmuwan tanpa adanya campur tangan sehingga diperoleh keakurasian. Banyak kritik yang meragukan kemungkinan ini, percaya bahwa tidak ada metodepengamatan yang benar-benar bebas dari ditorsi. Masalah ketiga dalam aksiologi berhubungan dengan akhir penelitian yang dilakukan. Haruskah penelitian dirancang untuk mencapai perubahan atau apakah fungsinya hanya untuk menghasilkan pengetahuan.? Para ilmuwan tradisional menyatakan bahwa mereka tidak bertanggung jawab terhadap cara-cara penggunaan pengetahuan ilmiah—dapat digunakan pada hal yang baik atau hal yang buruk.
Oleh karena itu secara keseluruhan ada dua posisi yang terletak pada masalah-masalah aksiologi ini. Pada satu sisi, beberapa akademisi mencari objektifitas dan pengetahuan yang mereka percaya bahwa sangat bebas nilai. Disisi lain bahwa ilmu yang sadar nilai, dimana peneliti mengenali pentingnya nilai-nilai bagi penelitian dan teori, berhati-hati untuk menghargai pendirian mereka, serta menjadikan usaha yang dilakukan untuk mengarahkan nilai-nilai tersebut dalam cara yang positif.

KONSEP
Dimensi utama eori adalah konsep-konsep atau kategori-kaegorinya. Materi-materi dikelompokkan kedalam kategori-kategori konsptual mmenurut kualitas-kualitas yang diamati. Konsep istilah dan definisinya memberitahukan kita apa yang dilihat oleh ahli teori atau oleh ahli teori dan apa yang dianggap penting. Untuk menentukan konsep ahli teori komunikasi mengamati banyak variabel dalam interaksi manusia dan menggolongkannya dan menandainya menurut pola-pola yang diterimanya. Hasilnya dan tujuan teori adalah untuk merumuskan dan mengartikan konsep-konsep yang telah ditandai. Istilah konseptual yang telah diidentifikasi menjadi sebuah bagian penting dari teori dan seringkali istilah-istilah khusus berfungsi sebagai istilah-istilah konseptual bagi salah satu teori belum tentu dapat digunakan untuk yang lain. Teori memiliki tujuan untuk memberikan sebuah susunan kategori untuk sesuatu tanpa menjelaskan bagaimana mereka saling berhubung-dikenal dengan sebutan taksonomi.

Penjelasan
Sebuah penjelasan merupakan dimensi selanjutnya dari teori dan disini para ahli teori mengidentifikasikan keteraturan atau pola dalam hubungan antar variabel, misalkan penjelasan menjawab pertanyaan: Kenapa? Sebuah penjelasan mengidentifikasi sebuah “kekuatan logis” antar variabel yang menghubungkan mereka. Sebagai contoh seorang ahli teoori dapat membuat hipotesis bahwa jika anak-anak melihat banyak tayangan kekerasan dalam tayyangan televisi, maka merreka akan mengembbangkan kecenderungan akan melakukan tinndak kekerasan. Dalam ilmu pengetahuan sosial, hubungannya jarang dianggap sesuatu yang mutlak.
Ada beberapa jenis penjelasan, tapi dua penjelasan paling umum adalah kausal dan praktis. Dalam penjelasan kausal kejadian-kejadian dihubungkan sebagai hubungan sebab akibat, dengan salah satu variabel yang dianggap sebagai salah satu hasil atau akibat variabel lainnya. Sebaliknya penjelasan praktis menjelaskan tindakan-tindakan sebagai tujuan yang terhubung dengan tindakan yang dirancang dengan mencapai tujuan dimasa yang akan datang. Dalam kausal kejadian ditentukan oleh beberapa kejaadian yang mendahuluinya. Dalam penjelasan praktis, akibat-akibat terjadi karena tindakan-tindakan yang dipilih. Perbedaan anpenjelasan antara kausal dan praktis merupakan hal yang penting dalam perdebatan mengenai apa yang harus dilakukan sebuah teori. Banyak ahli tradisional yang mengatakan bahwa teori-teori harus berenti pada penjelasan. Para akademis percaya bahwa teori menggambarkan hal-hal sebagaimana adanya, dengan mengidentifikasi dan menjelaskan mekanisme kausal kejadian tersebut. Akademisi lain mempertahankan bahwa teori-teori harus menembus penggambaran dan harus memberikan paduan tindakan praktis, sebuah pendekatan yang yang membuat penjelasan praktis menjadi penting.

Prinsip
Prinsip merupakan dimensi terakhir dari teori. Sebuah prinsip merupakan sebuah acuan yang memungkinkan anda untuk mengartikan sebuah kejadian, membuat penilaian apa yang terjadi, dan selanjutnya memutuskan bagaimana bertindak dalam situasi tersebut. Sebuah prinsip memiliki tiga bagian: (1) mengidentifikasi sebuah situasi atau kejadian (2) menyertakan seperangkat norma atau nilai. (3) menegaskan sebuah hubungan antara susunan tindakan dan akibat yang mungkin. Sebagai contoh anda dapat mengatakan (1) ketika memberikan sebuah pidato publik (situasi) (2) pendengar anda sangat penting (nilai) (3) anda harus mencoba untuk terbiasa dengan pengetahuan,sikap, dan tindakan pendengar. Ingatlah bahwa anda tidak menyatakan setiap bagian, namun setidaknya mereka menangkap secara tersirat dan dapat menyimpulkannya. Prinsip-prinsip memperbolehkan seorang peneliti untuk merefleksikan pada kualitas tindakan yang diamati dan juga untuk memberikan panduan bagi praktik, tidak seperti penggunaan prinsip-prinsip dalam kehidupan sehari-hari.
Tidak ada persetujuan, setidaknya dalam ilmu pengetahuan sosial, mengenai apakah teori harus menyertakan prinsip untuk penilaian dan tindakan. Beberapa ahli teori cukup senang dengan dengan hanya menawarkan konsep dan penjelasan tanpa membuat rekomendasi mengenai dasar teorisasi mereka. Bagi ahli-ahli teori yang lain justru menghasilkan prinsip yang dapat digunakan sebagai dasar tindakan di dunia merupakan keseluruhan tujuan untuk keterlibatan dalam pembuatan teori.
Dimensi teori yang beragam hanya menggambarkan----asumsi, konsep, penjelasan, dan prinsip---tergabung dalam cara-cara yang berbeda untuk menyusun teori yang berbeda. Untuk lebih jauh bagaimana kombinasi elemen-elemen teoritis yang beragam menghasilkan jenis-jenis yang berbeda, kita akan menggunakan dua teori paradigma sebagai contohnya. Teori nomotetik dan teori praktis. Dua teori ini memberikan ujung sebuah teori dan rangkaian penelitian yang tidak serapi dalam kenyataan. Seperti yang akan dihadirkan disini, menunjukkan bagaimana dimensi-dimensi teori yang berbeda membantu dalam menyusun sudut pandang dan pendekatan penelitian yang berbeda.

Kamis, 01 Juli 2010

komunikasi lintas budaya

BAB I PENDAHULUAN

Latar Belakang
Manusia adalah makhluk sosial yang selalu berinteraksi satu sama lain, baik itu dengan sesama, adat istiadat, norma, pengetahuan ataupun budaya di sekitarnya. Pada kenyataanya seringkali kita tidak bisa menerima atau merasa kesulitan menyesuaikan diri dengan perbedaan-perbedaan yang terjadi akibat interaksi tersebut, seperti masalah perkembangan teknologi, kebiasan yang berbeda dari seorang teman yang berbeda asal daerah atau cara-cara yang menjadi kebiasaan (bahasa, tradisi atau norma) dari suatu daerah sementara kita berasal dari daerah lain. Dari sebuah hubungan interaksi sosial itu menimbulkan suatu budaya baru yang berawal dari sebuah proses akulturasi budaya.
Beraneka ragam dan corak pada setiap kebudayaan daerah menjadikan sebuah ciri khas tersendiri bagi setiap manusia dimuka bumi ini, berbagai macam perbedaan budaya tersebut antara lain dapat dilihat dari bentuk pakaian, bahasa, postur tubuh, aneka macam makanan, adat istiadat yang mengatur pada suatu daerah tertentu dan masih banyak lagi. Terkadang kita dihadapkan pada sebuah realitas yang sedikit berbeda dengan budaya kita, sehingga kita merasa asing ketika berada pada suatu wilayah tertentu. Pada mulanya ketika seseorang dihadapkan pada posisi demikian, ia akan beranggapan bahwa ia merasa dikucilkan oleh orang-orang yang tinggal dilingkungannya. Namun seiring berjalannya waktu, dan seringnya intensitas seseorang berinteraksi dengan orang-orang baru dilingkungannya, maka ia akan menemukan sebuah kenyamanan dan bahkan bisa mengadopsi budaya baru yang ada dilingkungan baru tersebut.
Manusia adalah makhluk sosio-budaya yang memperoleh perilakunya lewat belajar. Apa yang kita pelajari pada umumnya dipengaruhi oleh kekuatan-kekuatan sosial dan budaya. Dari semua aspek belajar manusia, komunikasi merupak aspek yang terpenting dan paling mendasar. Kita banyak belajar dari respons-respons komunikasi terhadap rangsangan dari lingkungan sekitar. Kita harus menyandi dan menyandi balik pesan-pesan dengan cara itu sehingga pesan-pesan tersebut akan dikenali, diterima,dan direspon oleh individu-individu yang berinteraksi dengan kita. Bila dilakukan, kegiatan-kegiatan komunikasi berfungsi sebagai alat untuk menafsirkan lingkungan fisik dan sosial kita. Komunikasi merupakan alat utama untuk memanfaatkan berbagai sumber daya lingkungan dalam pelayanan kemanusiaan. Lewat komunikasi kita menyesuaikan diri dan berhubungan dengan lingkungan kita, serta mendapat keanggotaan dan rasa memiliki dalam berbagai kelompok sosial yang mempengaruhi kita. (Mulyana & Rahmat,2001;137)

Rumusan Masalah
Bagaimana proses gegar budaya dan masalah penyesuaian diri dalam lingkungan baru?
















BAB II PEMBAHASAN

Gegar budaya (culture shock) adalah suatu penyakit yang berhubungan dengan pekerjaan atau jabatan yang diderita orang-orang yang secara tiba-tiba berpindah atau dipindahkan ke suatu daerah tertentu. Sebagaimana kebanyakan penyakit lainnya, gegar budaya juga mempunyai gejala-gejala dan pengobatan secara tersendiri.
Gegar budaya ditimbulkan oleh kecemasan yang disebabkan oleh kehilangan tanda-tanda dan lambang-lambang dalam pergaulan sosial. Tanda-tanda tersebut meliputi seribu satu cara yang kita lakukan dalam dalam mengendalikan diri sendiri dalam menghadapi situasi sehari-hari: kapan berjabat tangan dan apa yang harus kita katakan bila bertemu dengan orang, kapan bagaimana memberikan tip, bagaimana berbelanja, kapan menerima dan menolak undangan, kapan membuat pernyataan-pernyataan dengan sengguh-sungguh dan kapan sebaliknya. Petunjuk-petunjuk ini yang mungkin dalam bentuk kata-kata, isyarat-isyarat, ekspresi wajah, kebiasan-kebiasaan, atau norma-norma, kita peroleh sepanjang perjalanan hidup kita sejak kecil. Begitu pula aspek-aspek budaya kita lainnya, seperti bahasa dan kepercayaan yang kita anut. Demi ketentraman hidup kita semua bergantung pada beratus-ratus petunjuk ini, petunjuk-petunjuk yang kebanyakannya tidak kita bawa dengan sadar.
Bila seseorang memasuki suatu budaya asing, semua atau hampir semua petunjuk itu lenyap. Ia bagaikan ikan yang keluar dari air. Meskipun anda berpikiran luas dan beritikad baik, anda akan kehilangan pegangan. Lalu anda akan mengalami frustasi dan kecemasan. Biasanya orang-orang menghadapi frustasi dengan cara yang hampir sama. Pertama-tama mereka menolak lingkungan yang menyebabkan ketidak nyamanan. (Mulyana & Rahmat,2001;174)
Menurut Stewart (1974) Komunikasi antar budaya adalah komunikasi yang terjadi dibawah suatu kondisi kebudayaan yang berbeda bahasa, norma-norma, adat istiadat dan kebiasaan. Dalam menjalani proses komunikasi antar budaya pasti akan mengalami suatu keterkejutan budaya yang berbeda dengan budaya kita. Menurut Dedi Mulyana dalam buku komunikasi antar budaya mengatakan bahwa Gegar budaya ditimbulkan oleh kecemasan yang disebabkan oleh kehilangan tanda-tanda dan lambang-lambang dalam pergaulan sosial. (http:// /Gegar Budaya sebagai proses Komunikasi Antar Budaya « Ekspresi Datang berseri, Pulang membawa ilmu.html)
Budaya berkenaan dengan cara manusia hidup. Manusia belajar berpikir, mempercayai dan mengusahakan apa yang patut menurut budayanya. Bahasa, persahabatan, kebiasaan makan, praktik komunikasi, tindakan-tindakan sosial, kegiatan ekonomi dan politik, dan tekhnologi. Semua itu berlandaskan pola-pola budaya . ada orang-orang yang berbicara bahasa tagalog, memakan ular, menghindari minuman keras yang terbuat dari anggur, menguburkan orang-orang yang mati, berbicara melalui telepon, atau meluncurkan roket ke bulan, ini semua karena mereka telah dilahirkan atau sekurang-kurangnya dibesarkan dalam suatu budaya yang mengandung unsur-unsur tersebut. Apa yang orang-orang lakukan, bagaimana mereka bertindak, bagaimana mereka hidup dan berkomunikasi, merupakan respons-respons terhadap dan fungsi-fungsi dari budaya mereka.
Budaya adalah suatu konsep yang membangkitkan minat. Secara formal budaya didefinisikan sebagai tatanan pengetahuan, pengalaman, kepercayaan diri, nilai, sikap, hirarki, agama, waktu, peranan, hubungan ruang, makna, konsep alam semesta, objek-objek materi dan milik yang diperoleh sekelompok besar orang dari generasi kegenerasi melalui usaha individu dan kelompok. Budaya menampakkan diri dalam pola-pola bahasa dan dalam bentuk-bentuk kegiatan dan perilaku yang berfungsi sebagai model-model bagi tindakan-tindakan penyesuaian diri dan gaya komunikasi yang memungkinkan orang-orang tinggal dalam suatu masyarakat disuatu lingkungan geografis tertentu pada suatu tingkat perkembangan tekhnis tertentu dan pada suatu saat tertentu. Budaya juga berkenaan dengan sifat-sifat dari objek-objek materi yang memainkan peranan penting dalam kehidupan sehari-hari. Objek-objek seperti rumah, alat dan mesin yang digunakan dalam industri dan pertanian, jenis-jenis transportasi, dan alat-alat perang, menyediakan suatu landasan utama bagi kehidupan sosial. Budaya berkesinambungan dan hadir dimana-mana, budaya meliputi semua peneguhan perilaku yang diterima selama periode kehidupan. Budaya juga berkenaan dengan bentuk dan struktur fisik serta lingkungan sosial yang mempengaruhi hidup kita. Sebagian besar pengaruh budaya terhadap kehidupan kita tidak kita sadari. Mungkin suatu cara untuk memahami pengaruh budaya adalah dengan membandingkan dengan komputer elektronik: kita memprogram komputer agar melakukan sesuatu, budaya kita pun memprogram kita agar melakukan sesuatu yang menjadikan kita apa adanya. Budaya kita secara pasti mempengaruhi kita sejak dalam kandungan hingga mati-dan bahkan setelah matipun kita dikuburkan dengan cara-cara yang sesuai dengan budaya kita.
Budaya dan komunikasi tidak dapat dipisahkan oleh karena budaya tidak hanya menentukan siapa berbicara dengan siapa, tentang apa, dan bagaimana orang yang menyandi pesan, maka yang ia miliki untuk pesan, dan kondisi-kondisi untuk mengirim, memperhatikan dan menafsirkan pesan. Sebenarnya seluruh perbendaharaan perilaku kita sangat bergantung pada budaya tempat kita dibesarkan. Konsekuensinya, budaya merupakan landasan komunikasi, bila budaya beraneka ragam, maka beraneka ragam pula praktik-praktik komunikasi. (Mulyana & Rahmat,2001;18:19)

Contoh Terjadinya Gegar Budaya
Ketika Adi lulus sekolah menengah atas (SMA), Adi memutuskan untuk melanjutkan studi saya ke Jawa Timur, tujuan Adi datang ke daerah Pasuruan. Awalnya ketika Adi datang di Pasuruan Adi merasa asing, terutama dalam pengucapan bahasa yang mereka pakai sehari-hari. Dari budaya yang Adi anut, Adi memiliki latar belakang budaya orang Jawa Tengah. Walaupun Adi memiliki latar belakang budaya Jawa Tengah, namun Adi telah lama dan menetap di Sumatera Selatan, sehingga adat kebudayaan Adi telah banyak mengikuti orang-orang asli Palembang. Adi mampu berdialog dengan bahasa Jawa, namun bahasa yang dipakai Adi khas Jawa Tengah. Ketika sampai di daerah Pasuaruan ia merasa tidak nyaman, karena ia merasa bahwa ia mmerasa dikucilkan oleh rekan satu Kos-nya. sesuatu ketika ada rekan satu kos Adi yang sakit, dengan dialog khas Jawa Tengah Adi bilang “nak enek konco seng sakit yo di tilik’i. (kalo ada teman yang sakit ya di jenguk)”. berhubung yang diajak berdialog orang Jawa Timur mereka semua bingung. Yang mereka ketahui bahasa “menilik’i”(Jawa Tengah: menjenguk/melihat. Jawa Timur: mencicipi/mencoba rasa sesuatu).
Dari contoh kasus diatas jelas bahwa dalam sebuah komunikasi antar budaya terjadi sebuah gangguan (noice), sebenarnya apa yang hendak disampaikan benar namun pada akhirnya bahasa yang diucapkan memiliki arti yang bereda dari makna yang diharapkan. Hal ini tentu sangat dipengaruhi dengan adanya perbedaan antara kultur budaya pada suatu daerah tertentu. Pada situasi yang demikian Adi mengalami sebuah kejutan budaya. Kejutan budaya mengacu pada reaksi psikologis yang dialami seseorang karena berada ditengah suatu kultur yang sangat berbeda dengan kulturnya sendiri. Kejutan budaya ini sebenarnya normal. Kebanyakan orang mengalami apabila memasuki kultur yang baru dan berbeda. Namun demikian, keadaan ini tidak menyenangkan dan menimbulkan fhistrasi. Sebagian dari kejutan ini timbul karena perasaan terasing menonjol dan berbeda dari yang lain. Bila kita kurang mengenal adat dan kebiasaan masyarakat baru ini, kita tidak dapat berkomunikasi secara efektif. Kita akan cenderung melakukan kesalahan yang serius.
Budaya dan Komunikasi
Everret M. Rogers & Lawrence Kincaid menyatakan bahwa komunikasi adalah suatu proses dimana dua orang atau lebih membentuk atau melakukan pertukaran informasi antara satu sama lain, yang pada gilirannya terjadi pengertian yang saling mendalam. Sedangkan menurut Ruesch komunikasi adalah suatu proses yang menghubungkan suatu bagian dengan bagian lainnya dalam kehidupan.(fajar,2009;32)
Hubungan antara budaya dan komunikasi penting dipahami untuk memahami komunikasi antar budaya, oleh karena melalui pengaruh budayalah orang-orang belajar komunikasi. Seorang Korea, seorang Mesir atau seorang Amerika belajar berkomunikasi seperti orang-orang lainnya. Perilaku mereka mengandung makna, sebab perilakutersebut dipelajari dan diketahui dan perilaku tersebut terikat oleh budaya. Budaya bersifat menyeluruh. Budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif. ((Mulyana & Rahmat,2001;24)
Dalam berkomunikasi seseorang tidak akan pernah luput dari bahasa, baik bahasa verbal maupun bahasa nonverbal. Komunikasi verbal adalah pernyataan lisan antar manusia lewat kata-kata dan simbol umum yang telah disepakati antar individu, kelompok bangsa dan Negara. Jadi komunikasi verbal dapat disimpulkan bahwa komunikasi yang menggunakan kata-kata secara lisan dengan dilakukan secara sadar dilakukan oleh manusia untuk berhubungan dengan manusia lain. Dasar komunikasi verbal adalah interaksi antar manusia. Dan menjadi salah satu cara bagi manusia berkomunikasi secara lisan atau pikiran, perasaan dan maksud kita. Dedi Mulyana mengungkapkan bahwa bahasa verbal menggunakan kata-kata yang mempresentasikan berbagai aspek realitas individual kita. Beberapa komponen komunikasi verbal yaitu, suara, kata-kata, berbicara, bahasa.
Proses vebal merupakan alat utama untuk pertukaran pikiran dan gagasan, namun proses-proses ini sering dapat diganti oleh proses nonverbal. Walaupan tidak dapat kesepakatan tentang bidang proses nonverbal ini, kebanyakan ahli setuju bahwa hal-hal berikut mesti dimasukkan : isyarat, ekspresi wajah, pandangan mata, postur dan gerakan tubuh, sentuhan, pakaian, artefak, diam, ruang, waktu dan suara. Dalam proses-proses nonverbal yang relevan dengan komunikasi antarbudaya, terdapat beberapa spek diantaranya perilaku non verbal yang berfungsi sebagai bentuk bahasa diam, konsep waktu, dan penggunaan dan pengaturan ruang.
Perbedaan bahasa tidak mengakibatkan perbedaan penting dalam persepsi, pemikiiran atau perilaku. Perbedaan diantara bahasa terlihat paling besar adalah pada waktu diawal interaksi. Oleh karena itu, sangatlah penting bahwa kita menggunakan tekhnik-tekhnik komunikasi yang efektif. Bahasa itu mencerminkan budaya, semakin besar perbedaan budaya, semakin besar pula perbedaan komunikasi, baik dalam bahasa maupun dalam isyarat-isyarat nonverbal. Semakin besar perbedaan budaya maka semakin sulit komunikasi dilakukan. Kesulitan ini misalnya, lebih banyak kesalahan komunikasi, lebih banyak kesalahan kalimat, lebih bbesar kemungkinan salah paham, makin banyak salah persepsi. Kita perlu sangat peka terhadap hambatan-hambatan yang menghalangi komunikasi antarbudaya yang bermakna. Begitu juga, kita perlu menggunakan tekhnik-tekhnik yang membantu kita melestarikan dan meningkatkan komunikasi antarbuddaya.
Dilihat dari fungsinya, bahasa merupakan alat yang dimiliki bersama untuk mengungkapkan gagasan (socially shared), karena bahasa hanya dapat dipahami apabila ada kesepakatan di antara anggota-anggota kelompok sosial untuk menggunakannya. Bahasa diungkapkan dengan kata-kata dan kata-kata tersebut sering diberi arti arbiter (semaunya). Contoh: terhadap buah pisang orang Sunda menyebutnya cau dan orang jawa menyebutnya gedang. Kemudian definisi bahasa secara formal ialah semua kalimat yang terbayangkan dan bisa dibuat menurut peraturan bahasa. Setiap bahasa bisa dikatakan mempunyai tata bahasanya sendiri. (http://Penggunaan Bahasa di dalam Komunikasi Antarbudaya « Communication as a broad study.html).

Komunikasi Antarbudaya Efektif
Dalam banyak hal, hubungan antara budaya dan komunikasi bersifat timbal balik. Keduanya saling mempengaruhi. Apa yang kita bicarakan, bagaimana kita membicarakannya, apa yang kita lihat, kita perhatikan, abaikan, bagaimana kita berfikir, apa yang kita pikirkan dipengaruhioleh budaya. Budaya takkan hidup tanpa komunikasi, dan komunikasi pun takkan hidup tanpa budaya. Masing-masing tak dapat berubah tanpa menyebabkan perubahan pada yang lainnya. Masalah utama dalam komunikasi antarbudaya adalah kesalahan dalam persepsi sosial yang disebabkan oleh perbedaan-perbedaan budaya yang mempengaruhi proses persepsi. ((Mulyana & Rahmat,2001;34)
Semakin besar pebedaan antarbudaya, maka semakin besar pula kesadaran diri (mindfulness) para partisipan komunikasi. Hal ini memiliki konnsekuensi positif dan negative. Positifnya adalah kesadaran diri membuat kita lebih waspada. Ini mencegah kita mengatakan hal-hal yang mungkin terasa tidak peka atau tidak patut. Adapun negatifnya adalah, hal ini membuat kita tterlalu behati-hati, tidak spontan, dan tidak percaya diri. Dengan semakin baik kita mengenal, maka perasaan terlalu berhati-hati akan hilang dan menjadi lebih percaya diri dan spontan. Hal demikian ini pada gilirannya akan menambah kepuasan dalam komunikasi antarbudaya. Masalah sebebnnarnya bukan bagaimana menjaga interaksi dan mengupayakan saling pengertian melainkan, kita ini terlalu mudah menyerah setelah terjadi kesalahpahaman disaat awal. Perbedaan antarbudaya terutama penting dalam interaksi awal dan secara berangsur bekurang tingkat kepentingan ketika hubungan menjadi lebih akrab. Dalam komunikasi antarbudaya kita seharusnya memaksimalkan hasil interaksi. Tiga konsekwensi yang mengisyaratkan implikasi penting bagi komunikasi antarbudaya. Sebagai contoh, orang akan berinteraksi dengan orang lain yang mereka perkirakan akan memberikan hasil yang positif. Karena komunikasi antarbudaya itu sulit, kita mungkin menghindarinya. Dengan demikian, kita akan memilih berbicara dengan rekan sekelas yang banyak kemiripannya dengan kitta dibandingkan orang yang sangat berbeda. Tetapi memperluas pergaulan kita mungkin akan memberikan kepuasan yang ebih besar setelah beberapa waktu. Kedua, bila kita mendapatkan hasil yang positif , kita terus melibatkan diri dalam komunikasi dan meningkatkan komunikasi kita. Bila kita memperoleh hasil negative, kita akan menarik diri dan mengurangi komunikasi. Ketiga, kita membuat prediksi tentang mana perilaku kita yang akan memberikan hasil positif. Dalam komunikasi, kita berusaha memprediksi hasil, misalnya dari pilihan topik, posisi yang kita ambil, perilaku nonverbal yang kita tunjukkan, banyak pembicaraan yang kita lakukan, disbanding dengan tindakan mendengarkann, dan sebgainya. .(fajar,2009;304:306)

Namun dalam prosesnya komunikasi antarbudaya terjadi sebuah hambatan dan masalah yang sama seperti yang dihadapi oleh bentuk-bentuk komunikasi yang lain. Dalam menciptakan sebuah keefektifan komunikasi antarbudaya, komunikasi akan lengkap bila penerima pesan yang dimaksud mempersepsi atau menyerap perilaku yang disandi, memberi makna kepadanya dan terpengaruh olehnya. Dalam transaksi komunikasi harus dimaksukkann semua syimuli sadar-taksadar, sengaja-tak sengaja, verbal, nonverbal yang kontekstual yang berperan sebagai isyarat-isyarat kepada sumber dan penerima tentang kualitas dan kredibilitas pesan. Dalam proses interaksi antarbudaya sama halnya dengan harus memperhatikan delapan unsur komunikasi, kedelapan unsur tersebut yaitu, sumber (source), penyandian (ecoding), pesan (message), saluran (chanel), penerima (receiver), penyandian balik (decoding), respon penerima (receiver response) dan yang terakhir umpan balik(feedback).







BAB III KESIMPULAN
Bila orang awam berpikir tentang budaya biasanya ia berfikir tentang 1. Cara orang berpakaian, 2. Kepercayaan-kepercayaan yang mereka miliki, 3. Kebiasaan-kebiasaan yang mereka praktekkan. Dari ketiga ini menurut orang awam biasanya telah mampu mewakili arti dari sebuah budaya. Tak seorang pun dapat memungkiri semakin pentingnya arti komunikasi antarbudaya. Komunikasi antar budaya ini menempati posisi sentral dalam dinamika sosial. Apalagi sekarang telah memasuki era globalisasi. Suatu era yang mampu menembus batas-batas wilayah suatu Negara. Contoh yang paling sederhana dan mudah kita jumpai adalah banyak sekali dan hampir setiap waktu, budaya-budaya asing masuk dan bertatap muka dengan kita dan anggota keluarga lainnya. Suka atau tidak suka, kondusif atau mungkin berbeda dan bertentangan dengan kultur kita sendiri. Namun mereka telah hadir disetiap kesempatan dan berusaha mempengarungi kita untuk menerima dan masuk dalam kehidupan kita. Hal ini telah dibuktikan dengan kehadiran mereka yang merambah pada kehidupn pribadi kita, dikamar-kamar kita melalui media elektronik dan media cetak serta media-media massa lainnya. Jika kita perhatikan sungguh banyak sekali faktor yang menjadi penyebab semakin nyata dan bahkan pentingnya komunikasi antarbudaya.
Dengan belajar komunikasi antarbudaya harapan kita setidaknya memiliki tujuan meningkatkan pengetahuan kita tentang diri kita sendiri dengan menjelaskan sebagian dari perilaku komunikatif yang tidak kita sadari. Entah disadari atau tidak, gegar budaya terjadi pada setiap individu, dan saat mengalami hal demikian bagi ia akan mengalami sebuah keterasingan diri pada lingkungan barunya. Namun dengan melakukan interaksi dan mempelajari budaya dilingkungannya maka ia akan menemukan sebuah keadaan yang nyaman dan bahkan hal demikian mampu menambah informasi serta pengetahuan baru dalam melengkapi informasi tentang budaya, sehingga dalam proses yang demikian seseorang tanpa ia sadari melakukan akulturasi budaya.
DAFTAR PUSTAKA
Fajar, Marhaeni.2009.Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek. Jogjakarta :Graha Ilmu
Mulyana, Dedi & Rakhmat, Jalaludin.2001.Komunikasi Antarbudaya. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya
(http://Penggunaan Bahasa di dalam Komunikasi Antarbudaya « Communication as a broad study.html).
(http:// /Gegar Budaya sebagai proses Komunikasi Antar Budaya « Ekspresi Datang berseri, Pulang membawa ilmu.html)

Selasa, 22 Juni 2010

komunikasi massa

Wayang, riwayatmu kini...
Di antara banyak kesenian tradisional, wayang merupakan salah satu warisan budaya yang masih digemari sampai saat ini. Wayang merupakan gambaran kehidupan manusia dan di dalam pertunjukkan wayang terdapat pelajaran dan pendidikan tentang kebenaran. Namun sangat disayangkan, karena esensi nilai pertunjukan wayang sekarang sudah tergeser, yang pada mulanya wayang adalah tontonan sekaligus tuntunan, sekarang hanya bisa menjadi tontonan. Wayang sebenarnya merupakan budaya India yang kemudian diadaptasi menjadi budaya Indonesia. Adaptasi disini hanyalah merupakan adaptasi bahasa semata, sedang untuk cerita dan tokoh-tokoh di dalamnya kurang lebih masih sama. Tokoh-tokoh yang ada dalam wayang merupakan representasi dari karakter-karakter manusia sekarang. Sehingga cerita dalam pewayangan pun juga sekitar kehidupan manusia. Seperti perwatakan kepemimpinan yang digambarkan tokoh Kresna, tokoh itu menunjukkan orang yang mempunyai tujuan hidup dunia dan akhirat yang imbang. Kresna juga merupakan tauladan seorang pemimpin yang patut ditiru dari sifatnya yang arif, bijaksana, pembela kebenaran dan memiliki pembawaan yang penuh wibawa.
Kaitannya dengan karakter seorang pemimpin dalam pewayangan dan karakter pemimpin saat ini sangatlah berlawanan, tokoh pemimpin dalam pewayangan yang menggambarkan pemimpin sekarang adalah Dasamuka, seorang pemimpin kerajaan Ngalengka ini mempunyai watak murka, hal ini tidak jauh dengan karakter kebanyakan pemimpin sekarang yang murka dan banyak korupsi harta rakyat. Padahal banyak karakter pemimpin wayang yang bisa dicontoh, seperti karakter yang direpresentasikan oleh tokoh Kresna.
Seni pewayangan masih eksis pada saat ini, meskipun keberadaannya sedikit tergeser oleh budaya lain, tapi masih ada akar-akar yang kuat dari budaya wayang yang ada dalam masyarakat, terutama masyarakat Jawa. Sehingga, perlu adanya suatu program pelestarian budaya khususnya budaya seni pewayangan agar keberadaannya terus eksis dan tidak semakin tergeser. Menyangkut hal ini, sebenarnya langkah yang dilakukan oleh pemerintah khususnya pemerintah kota solo yang telah sukses membangkitkan kembali minat masyarakat terhadap seni batik dengan program Batik Carnival beberapa waktu lalu itu merupakan langkah yang tepat untuk menyelamatkan eksistensi budaya sendiri. Sehingga, bukan tidak mungkin pemerintah juga membangkitkan minat masyarakat terhadap seni pewayangan asal caranya tepat.
Kajian Komunikasi Massa
Media massa dalam aktifitasnya dapat berfungsi sebagai penyedia tempat bagi budaya Nasional untuk kembali diapresiasi oleh khalayaknya. Budaya daerah yang tadinya telah atau hampir kehilangan tempat di hati masyarakatnya, kembali menemukan tempat apresiasinya di media massa. Sebagai contoh, pagelaran wayang golek atau wayang kulit yang sarat dengan makna yang digelar di pesta-pesta adat Sunda maupun Jawa, kini harus bersaing dengan orkes dangdut, organ tunggal yang lebih meriah dan atraktif sekalipun pada aspek lain murah meriah, miskin makna dan sarat dengan pesan-pesan erotisme. Disini tempat aspirasi wayang terbatas, semakin terancam dengan budaya lain yangg lebih disukai masyarakat.. Media cetak pun turut berperan dalam hal ini dengan menyajikan informasi seputar budaya daerah seperti yang dilakukan Harian Umum Pikiran Rakyat, Mangle, media lokal lainnya.
Melalui tayangan-tayangannya media massa dapat pula melakukan perubahan-perubahan terhadap suatu budaya, tapi tidak sampai mengubah inti dari budaya tersebut. Hal ini dilakukan melalui program-program yang telah mengalami modifikasi seperti Ketorak Humor, Inohong di Bojong Rangkong ataupun Lenong Rumpi, Lenong Bojah ataupun drama radio yang mengetengahkan tema kehidupan dengan latar belakang budaya nasional. Hal lain yang dapat dilakukan, misalnya menayangkan acara masak-memasak hidangan nusantara yang menghidangkan sajian khas daerah yang telah dimodifikasi bahan maupun rasanya. Diharapkan melalui cara-cara ini kelestarian budaya nasional dapat tetap dipertahankan. Media massa dapat juga mengingkatkan kesadaran masyarakat untuk kembali meng-empati kepeduliannya terhadap budaya nasional dengan cara menyajikan artikel-artikel dan informasi, yang isinya menghimbau masyarakat agar tidak melupakan akar budaya daerah masing-masing.
Masih banyak lagi yang dapat dilakukan oleh media massa untuk meningkatkan kesadaran akan kebudayaan nasionalnya. Acara-acara off air-pun dapat dilakukan oleh media massa dengan melakukan peliputan terhadap kegiatan-kegiatan saresehan. Seminar, maupun pagelaran-pagelaran budaya yang disponsori langsung oleh media massa. Dengan cara ini, khalayak dapat lebih merasakan manfaat yang diberikan dari kegiatan ini.
Kesimpulan
Pertunjukkan wayang sekarang ini, meski masih dikategorikan eksis, tapi juga mengkhawatirkan. Hal ini nampak jelas bila dibandingkan antara pertunjukkan wayang jaman dulu dan pertunjukkan wayang sekarang. Pertunjukkan wayang sekarang cenderung keluar dari skenario, pesan moral yang seharusnya tersirat jelas dalam setiap adegan pementasan sekarang nampak mulai kabur. Wayang yang pada awalnya merupakan tontonan dan tuntunan, sekarang mengalami penurunan kualitas bobot pesan moral. Hal ini disebabkan karena banyak dalang sekarang yang dikategorikan sebagai dalang nakal , dalang yang dimaksud adalah dalang yang bicaranya kasar dan rusuh, bahkan mengarah pada pembicaraan dewasa. Inilah masalah yang paling sulit dipecahkan, ketika harus membangkitkan kembali seni wayang, masyarakat lebih tertarik dengan pertunjukkan wayang yang rusuh. Padahal, makna ’membangkitkan’ disini diharapkan tidak hanya bangkit dan banyak pertunjukkan wayang, tapi juga ngugemi nilai-nilai etika serta estetika dalam pertunjukkan wayang tersebut agar nilai dan pesan moral yang terkandung didalamnya

Rabu, 09 Juni 2010

Mengenalkan Bahaya Internet Sejak Dini

Thomas M Scheidel mengemukakan bahwa kita berkomunikasi terutama untuk menyatakan dan mendukung identitas diri untuk membangun kontak sosial dengan orang lain disekitar kita dan mempengaruhi orang lain, merasa berfikir atau berperilaku yang seperti kita inginkan. Dan menurut Scheidel tujuan utama kita berkomunikasi untuk mengendalikan lingkungan fisik dan psikologis kita.
Perkembangan ilmu komunikasi dan tekhnologi yang semakin hari semakin pesat menjadikan manusia semakin mudah menjalin suatu komunikasi dan berinteraksi dengan manusia lain, baik dengan berkomunikasi lisan maupun komunikasi non lisan (cyber media/internet). Dalam melakukan akses internet kita selalu menggunakan perangkat yang dinamakan Komputer, namun seiring perkembangan tekhnologi untuk mengakses internet sekarang tidak hanya menggunakan tekhnologi komputer saja, namun bisa dengan berbagai macam alat komunikasi. Komputer bukan suatu alat yang asing kita jumpai, dan bahkan saat ini kita mulai mengenal bangku sekolah seperti saat ini kita telah diperkenalkan dengan perangkat komputer. Tidak hanya perangkatnya saja yang kita kenali, namun pula berbagai macam kelebihan dalam penggunaan Komputer. Namun pernahkah kita mendengar tentang sosialisasi dampak negatif penggunaan Komputer? Khususnya dalam hal ini pengguna aktif pelaku internet?
Internet mampu mendukung identitas diri untuk membangun kontak sosial dengan orang lain disekitar kita, dan mempengaruhi orang lain. Internet menjadikan seseorang mempunyai banyak rekan, mengenal dan menyerap ilmu pengetahuan lebih banyak,dan masih banyak hal yang mampu kita lakukan dengan internet. Namun Internet mampu mengikis norma dan aturan pada setiap individu. Berbagai contoh kasus yang ramai di ungkapkan oleh media massa adalah contoh riil dampak negatif penggunaan internet. Mudahnya dalam mengakses internet bagi setiap individu menyebabkan semakin marak nya perilaku menyimpang dan tindak kejahatan melalui cyber media. Tidak hanya pada masyarakat kota namun pula masyarakat pedesaan, karena semakin banyaknya sudut-sudut kampung yang dihiasi dengan bangunan warnet (warung internet). Sudah sepatutnya jika lembaga pendidikan memperbaiki metode pembelajaranya dengan tidak hanya mengajarkan dampak positif penggunaan internet namun pula perlu mempekenalkan dampak negatif nya. Dan dengan di dukung peran aktif pemerintah dalam rangka sosialisasi kepada masyarakat dirasa akan lebih efektif, hal ini dimaksudkan agar dapat menekan jumlah penyimpangan dalam penggunaan internet semakin berkurang.

Selasa, 12 Januari 2010

opini jawa pos 13 januari 2009

WASPADAI PROSES HUKUM YANG BERMUARA PADA HOTEL PRODEO
Belum tuntas kasus Bank century, belum tuntas pula kasus Antasari. Dua kasus yang seolah benang kusut yang pernah bertemu ujungnya, kini bangsa ini kembali mengoyak kebejatan aparatur pemerintah Negara ini. Mencuatnya kasus “Hotel Prodeo” yang minggu ini ramai di bincangkan oleh berbagai media membuat seluruh mata masyarakat seolah tersenyum menganggap ini adalah hal yang biasa. Kasus yang demikian sebenarnya bukan kasus baru, sebenarnya kasus lama yang selalu ditutupi oleh rasa nikmatnya “Upah” yang diterima kaum sipir dalam sebuah lembaga pemasyarakatan. Ini menunjukkan sebuah bukti kongkrit bahwa sesungguhnya Indonesia adalah Negara yang segala sesuatunya dapat dibeli dengan Uang. Dan bahkan hukum tindak Kriminal pun tak luput dari “pemberlakuan” ini. Miris memang, adakah yang salah dalam sistem bangsa ini? Atau apa yang telah dibenahi hanya sebatas wacana saja?
Penjara yang seharusnya berfungsi sebagai tempat membina para napi (nara pidana), agar saat keluar nanti dapat diterima keberadaanya oleh masyarakat sekitar, namun telah dijadikan lahan pencari uang tambahan bagi sekelompok kaum yang “serakah” dengan memanfaatkan keadaan yang demikian. Pemerintah pula tak usah repot mempersiapkan Lapas dengan kapasitas yang memadai, karena hal ini tentu pula harus dilakukan agar memberikan efek jera serta pemikiran yang rasional bagi para pelaku tindak kejahatan. Bila ada yang mengatakan bahwa “Napi bukan ayam yang harus tidur tumpang tindih” ini hanya sebentuk kata “Manja” mereka. Berfikir secara rasionalis dan analisis sejenak, apakah mereka juga berfikir demikian ketika mereka hendak melakukan tindak kejahatan. Tanpa kita sadari Ada hak dan kewajiban yang harus diterima dalam diri manusia. Namun sebagai personal dan zon politicon pada umumnya apakah kewajiban mereka sebagai warganegara yang baik telah mereka lakukan dan mereka penuhi. Mereka memiliki hak atas hak azasi manusia dan hak-hak lain yang seharusnya mereka terima. Namun, apakah mereka telah memenuhi kewajibannya sebagai warga Negara dengan menciptakan suasana yang aman dan tentram bangsa ini, dengan mematuhi landasan hukum yang berlaku serta menjaga persatuan dan kesatuan bangsa ini. Apakah mereka telah berlaku baik dan adil terhadap bangsa dan atas sesamanya?
Ini adalah gambaran siksa kecil yang harus diterima manusia sebelum dirinya menghadap yang maha kuasa. Ini dirasa belum sebanding atas apa yang telah dilakukan pelaku terhadap korbannya, tindak pembunuhan berdampak pada psikis keluarganya namun tindak korupsi dampaknya pembunuhan massal terhadap masyarakat secara tidak langsung. Lantas apakah yang salah dalam penemuan kamar tahanan Ayin yang memiliki fasiliitas super mewah? Apakah seseorang yang memiliki kekuasaan selalu berkuasa dimanapun mereka berada?
Oknum pemerintahan pun harus selalu mendukung dalam masalah ini, jangan pernah ada kebohongan yang selalu berputar. Dimata hukum warga Indonesia sama, kesetaraan hukum pun harus dilakukan tanpa pandang bulu. “Kebobrokan” harus segera dibenahi agar terciptanya suatu lingkungan yang kondusif bangsa ini. Jangan jadikan bangsa ini sebagai lahan kepentingan pribadi atau kepentingan kelompok…..

Penulis : Adi Inggit Handoko
Mahasiswa semester 5 Ilmu komunikasi Universitas Yudharta Pasuruan, Jatim
Rek: Bank Danamon 89864136 a/n Eka Ratna Masrofah

Minggu, 03 Januari 2010

contoh proyek proposal kegiatan

PROJEK PROPOSAL
1. LATAR BELAKANG
Kampus merupakan suatu masyarakat tersendiri. namun tidak terpisah dari masyarakat luar, serta memiliki tata cara serta corak kehidupan yang khas. Sebagai layaknya suatu masyarakat, di dalamnya terdapat aturan yang diperlukan agar masyarakat yang bersangkutan dapat berfungsi dengan baik.Demikian juga dalam masyarakat kampus, mahasiswa adalah anggota masyarakat kampus, kelompok yang masih belajar, dan perlu mendapatkan pendidikan dan pelatihan ketrampilan dan dipersiapkan untuk meneruskan proses pembangunan pada masa yang akan datang. Mengingat para mahasiswa merupakan bagian dari sivitas akademika dalam usia dewasa muda, maka organisasi mahasiswa tersebut perlu disusun berdasarkan prinsip “dari, oleh dan untuk mahasiswa“. Hal ini sesuai dengan asas pendidikan yaitu pimpinan perguruan tinggi lebih bersifat ulur tangan dari pada campur tangan.
Oleh karena itu dalam sebuah organisasi membutuhkan sebuah proses komunikasi, komunikasi yang dimaksud ialah komunikasi organisasi sebab komunikasi adalah ujung tombak dari maju mundurnya suatu organisasi,dalam hal ini adalah organisasi kemahasiswaan HIMPUNAN MAHASISWA KOMUNIKASI (HIMAKOM) Universitas Yudharta Pasuruan. organisasi adalah wadah dimana tempat orang dengan berbagai latar belakang yang berbeda berkumpul untuk berbagi pendapat dengan satu tujuan yaitu menggapai cita-cita bersama.Hal ini tidak hanya terjadi di organisasi eksternal seperti organisasi kepemudaan,agama,adat,dan lainnya akan tetapi hal ini juga harus diterapkan dalam organisasi kemahasiswaan,karena mahasiswa,pemuda,dan lainnya adalah ujung tombak dari pembangunan bagi bangsa dan negara, maka komunikasilah yang menjadi terpenting dan terkemuka, sebab tanpa komunikasi, organisasi tersebut tidak akan berjalan dengan baik dan semaksimal mungkin seperti yang diharapkan. Karena organisasi merupakan sistem kehidupan sosial, maka untuk mengfungsikan bagian-bagian itu terletak pada tangan manusia. Oleh karena itu hubungan manusia dalam organisasi yang memfokuskan kepada tingkahlaku komunikasi dari orang yang terlibat dalam satu hubungan yang perlu dipelajari dengan seksama.
Untuk mewujudkan itu, Himpunan Mahasiswa Komunikasi (HIMAKOM) berniat untuk menyelenggarakan Kongres IV, sebagai bentuk terwujudnya program kerja Himpunan Mahasiswa Komunikasi periode IV.

II. NAMA KEGIATAN
KONGRES IV HIMPUNAN MAHASISWA KOMUNIKASI
III. TUJUAN KEGIATAN
1. Pergantian pengurus lama dengan pengurus yang baru
2. Memberikan pemantapan dan menjalin keakraban dengan penuh rasa kekeluargaan kepada mahasiswa (angkatan lama dan yang baru) Program Studi Ilmu Komunikasi.
3. Mengenalkan profil Organisasi Mahasiswa Komunikasi (HIMAKOM).
4. Menambah loyalitas dan etos kerja dalam kepengurusan HIMAKOM
IV. LANDASAN KEGIATAN
a. Tridarma perguruan tinggi
b. Agenda tahunan Himpunan Mahasiswa Komunikasi (HIMAKOM)

V. DESAIN KEGIATAN
1. Nama, Bentuk Kegiatan
Nama : Kongres IV Mahasiswa Komunikasi (HIMAKOM)
Bentuk kegiatan : - Laporan Pertanggung Jawaban (LPJ)
- Pergantian pengurus HIMAKOM
2. Waktu Dan Tempat
Hari/Tanggal : Rabu, 30 Desember 2009
Tempat : Lantai 2 Ruang PAI Universitas Yudharta Pasuruan.


3. Pelaksana Kegiatan
Kegiatan ini dilaksanakan oleh Himpunan Mahasiswa Komunikasi dengan kepanitiaan sebagaimana terlampir (Lampiran 1).
4. Jadwal Kegiatan
Sebagaimana terlampir (Lampiran 2)
5. Peserta Kegiatan
Kegiatan ini akan diikuti oleh beberapa pihak, antara lain :
1. Mahasiswa HIMAKOM / UYP
2. Birokrat UYP
3. Undangan Himaprodi UYP
VI. RENCANA ANGGARAN DANA
Sebagaimana terlampir (Lampiran 3)
VII. PENUTUP
Demikian proposal kegiatan “KONGRES IV HIMAKOM” ini kami buat. Besar harapan kami atas nama organisasi agar pihak terkait dapat bekerja sama, mengingat tujuan dari kegiatan tersebut diatas. Kami selaku panitia pelaksana tidak akan melaksanakan kegiatan ini dengan lancar tanpa dukungan dari pihak-pihak terkait. Bagi kami, kritik dan saran yang membangun akan sangat berarti bagi kelangsungan kegiatan ini. Semoga kegiatan ini dapat bermanfaat bagi peserta khususnya dan bagi masyarakat pada umumnya..






Lampiran 1
SUSUNAN PANITIA KEGIATAN
KONGRES IV HIMAKOM
Pembina : Faris S.sos
Ketua Pelaksana : Muis Maulidi
Sekretaris : Zaenal A.
Bendahara : Ninik
Sie. Acara Sie. Konsumsi
Abd. Amin Nurdiana L.L
Avi khoirunnisa Arini
Niamur Rohman Alifah
Lina
Sie Kesekretariatan Sie. Humas
Adi Inggit H. Anis Shofiyah
Imron Hamzah Alfan
Aisyah Saifudin
Samsul Arifin
Sie. Publikasi dan Dokumentasi Tim Pemateri
Zuhdi Heri
Zainul A. Obas
Edi
Vivi

Lampiran 3
Rencana anggaran dana
kesekretariatan
No Nama Barang Harga
1
2
3
4
5 Foto copy undangan 70 lembar
Print undangan 3 lembar
Foto copy materi @30 lembar x 20
Foto copy tata tertib 50 lembar
Print proposal 10 lembar @ 500 Rp. 7.000
Rp. 1.500
Rp.60.000
Rp. 5.000
Rp. 5000

Jumlah RP. 78.500

Humas
No Nama Barang Harga
1 Transportasi Rp. 20.000
Jumlah Rp.20.000

Publikasi dan Dokumentasi
no Nama Barang Harga
1
2 Kertas asturo 10 warna warni @ 1.500
Lem Glukol 2 @ 2.500 Rp. 15.000
Rp. 5.000
Jumlah Rp. 20.000





Konsumsi
No Nama Barang Harga
1
2
3 Nasi Bungkus 50 @ 5000
Aqua 2 Kardus @ 15000
Snack Rp. 250.000
Rp. 30.000
Rp. 50.000
Jumlah Rp. 330.000


Rekapitulasi
1) Kesekretariatan Rp. 78.500
2) Humas / transportasi Rp. 20.000
3) Publikasi dan dokumentasi Rp. 20.000
4) Konsumsi Rp. 330.0000
Total Rp. 448.500











Lembar pengesahan
No : 01/ Pan.kongIV/ HIMAKOM.UYP/2009
Nama kegiatan Kongres IV himakom
Tempat Kegiatan Lantai 2 Ruang PAI Universitas Yudharta Pasuruan
Waktu Kegiatan 30 desember 2009
Pelaksana Kegiatan Himpunan Mahasiswa Komunikasi (HIMAKOM)
Bentuk Kegiatan Laporan Pertanggung Jawaban (LPJ)
Pergantian pengurus HIMAKOM

Estimasi Dana Rp. 448.500


Pasuruan, 28 Desember 2009
Pelaksana
Kongres IV HIMAKOM
Ketua Sekretaris

Muis Maulidi Zaenal A.
Mengetahui
Ketua HIMAKOM Kaprodi

M. Rifai Faris S.sos
Mengesahkan
Dekan FISIP

Syaiful Hadi S.Psi, Msi